Kutai Timur – Data keluarga berisiko stunting (KRS) kini menjadi fondasi utama dalam pencegahan stunting di Kabupaten Kutai Timur Kutim. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi menegaskan bahwa satu kesalahan data dapat membuat seluruh kebijakan pemerintah salah arah.
“Kalau data disajikan tidak benar atau tidak akurat, maka perencanaan juga nanti tidak benar dan tidak akurat. Tidak tepat sasaran,” tegas Junaidi kepada awak media.
Ia bahkan langsung menghubungi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) saat mendapati lonjakan data yang tidak masuk akal pada tampilan awal. Menurutnya, klarifikasi harus dilakukan segera sebelum data itu digunakan sebagai dasar perencanaan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Saya harus memastikan informasi ini benar-benar akurat sebelum digunakan sebagai dasar kebijakan,” ujarnya.
Hasil verifikasi menunjukkan KRS terbesar berada di Kecamatan Sangatta Utara, yakni 3.686 keluarga. Jumlah tersebut terbagi pada Teluk Lingga 897 keluarga, Desa Sangatta Utara 1.737 keluarga, Singa Gembara 295 keluarga, dan Swarga Bara 757 keluarga.
“Identitas itu penting. Jangan main-main dengan data” jelasnya.
Ia menyebut, faktor risiko stunting tak hanya terjadi setelah anak lahir. Risiko dimulai sejak fase keluarga, seperti akses air bersih yang buruk, tidak memiliki jamban standar, hingga pasangan usia subur (PUS) yang tidak mengikuti KB modern.
Melalui forum itu, Junaidi mengajak media ikut berperan mengawal kualitas data KRS. Jurnalis bahkan dipersilakan melakukan cross check langsung ke masyarakat jika menemukan kejanggalan.
“Kalau teman-teman media turun dan data itu benar, tulis bahwa data ini valid. Jika tidak, sampaikan agar kami perbaiki,” tuturnya.
Sebagai sekretariat Tim Percepatan Penanggulangan Stunting Kabupaten, ia berkomitmen mencegah lahirnya kasus baru dengan intervensi berbasis data yang presisi.
“Kami bergerak dari hulunya. Jangan menunggu anak lahir dalam kondisi stunting baru kita bertindak,” pungkasnya. (TS/ADV)
