Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus mendorong optimalisasi Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) sebagai wadah strategis pemberdayaan masyarakat dari tingkat desa. Program ini digerakkan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim dengan melibatkan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dunia usaha, dan masyarakat setempat.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi mengatakan bahwa Kampung KB bukan sekadar label program, melainkan ruang kolaborasi nyata antara pemerintah dan warga dalam membangun keluarga sejahtera, mandiri, dan sehat.
“Kampung KB adalah laboratorium kehidupan keluarga. Di sana semua program lintas sektor bisa diterapkan langsung sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar Junaidi kepada awak media.
Menurut Junaidi, penguatan Kampung KB dilakukan melalui integrasi program kependudukan, keluarga berencana, ketahanan keluarga, kesehatan lingkungan, hingga peningkatan ekonomi produktif. Pendekatannya berbasis data, dengan fokus pada keluarga berisiko stunting (KRS) dan keluarga prasejahtera.
“Kami tidak datang hanya membawa penyuluhan, tapi membawa solusi yang bisa dirasakan. Misalnya pelatihan wirausaha, perbaikan sanitasi, hingga edukasi gizi,” jelasnya.
Kampung KB menjadi motor gerakan perubahan di tingkat desa, di mana penyuluh, kader, dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) berperan langsung dalam mendampingi warga. Dalam praktiknya, setiap Kampung KB di Kutim diarahkan untuk memiliki unggulan lokal yang mendukung kesejahteraan keluarga, seperti olahan pangan, kerajinan, atau usaha mikro berbasis rumah tangga.
“Kalau keluarga sudah bisa berpenghasilan sendiri, otomatis daya tahan ekonomi mereka meningkat dan risiko stunting ikut menurun,” tuturnya.
Selain aspek ekonomi, Kampung KB juga menjadi sarana efektif menyebarluaskan nilai-nilai kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, dan perencanaan kehidupan berkeluarga. Melalui forum diskusi dan kegiatan gotong royong, masyarakat diajak memahami pentingnya membangun keluarga dari aspek fisik, psikis, dan sosial.
“Kita ingin semua desa di Kutim punya Kampung KB aktif, supaya pembangunan tidak hanya terpusat di kota,” ucapnya.
DPPKB Kutim juga bekerja sama dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk memperkuat pembiayaan kegiatan Kampung KB, terutama di wilayah pedalaman.
“Banyak perusahaan yang sekarang mulai ikut turun. Mereka sadar, membantu keluarga berarti membantu masa depan daerah,” ungkapnya.
Dengan semangat gotong royong, Junaidi yakin Kampung KB akan menjadi gerakan besar menuju Kutim yang lebih inklusif dan berdaya.
“Kampung KB adalah wajah pembangunan manusia di desa. Dari sana, kesejahteraan tumbuh dan masa depan lahir,” pungkasnya (TS/ADV)
