Banner Jejak Satu

Limbah Daun Nanas Kutim Dibidik Jadi Bahan Baku Rompi Antipeluru Nasional

Kutai Timur – Limbah daun nanas yang selama ini dibuang petani di Kecamatan Batu Ampar kini dibidik menjadi bahan baku industri bernilai tinggi. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menilai potensi tersebut dapat membuka peluang hilirisasi baru, mulai dari industri pertahanan hingga komponen pesawat.

Kepala Bidang (Kabid) Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kutai Timur Achmad Dony Erviady mengatakan hasil penelusuran di lapangan menunjukkan serat daun nanas Batu Ampar memiliki spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Selama ini, daun nanas hanya menjadi limbah setelah petani memanen buahnya.

“Potensi nanas kita itu bukan hanya jadi selai atau minuman, ternyata daunnya sudah pas ukurannya dengan yang dikehendaki oleh Pindad untuk dijadikan serat,” kata Dony di Kantor Disperindag.

Menurutnya, serat daun nanas tersebut berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan rompi antipeluru. Teknologi pengolahan serat tersebut sudah diterapkan di Pulau Jawa, sementara Kutai Timur memiliki bahan baku yang melimpah tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Kalau dijadikan serat, ternyata itu bisa jadi bahan baku pembuat baju antipeluru,” ujarnya.

Selain industri pertahanan, Dony menyebut serat daun nanas juga memiliki peluang masuk ke industri penerbangan. Material tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan interior pesawat karena memiliki karakter serat yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Ia mengungkapkan permintaan terhadap serat daun nanas juga mulai datang dari pelaku industri di Pulau Jawa. Bahkan, serat yang telah diolah disebut memiliki nilai jual sekitar Rp130 ribu per kilogram di luar biaya pengiriman.

“Sudah ada permintaan juga dari Jawa, kalau kita bisa mengirimkan seratnya itu sudah berani dibeli Rp130 ribu per kilogram di luar ongkir,” jelasnya.

Disperindag Kutai Timur mendorong pengembangan rumah produksi agar petani tidak hanya memperoleh keuntungan dari hasil panen buah, tetapi juga dari pengolahan daun nanas yang selama ini terbuang. Konsep tersebut dinilai dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.

Dony menambahkan pemerintah juga membuka peluang menghadirkan pelatihan dan kerja sama dengan pihak yang telah menguasai teknologi pengolahan serat daun nanas.

Menurutnya, hilirisasi harus segera diwujudkan agar potensi komoditas lokal tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi berkembang menjadi produk industri bernilai tinggi. (SH/ADV)

Loading