Kutai Timur — Upaya menjaga warisan budaya di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus didorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim melalui penggalian, pelestarian, hingga dokumentasi sejarah. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan berbagai informasi mengenai sejarah dan kebudayaan daerah dapat tercatat dan dipelajari kembali oleh masyarakat.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, mengatakan pelestarian kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan budaya yang sudah dikenal. Masih terdapat berbagai sejarah dan kebudayaan daerah yang perlu ditelusuri karena belum seluruhnya terdokumentasi secara baik.
Menurutnya, proses pelestarian tersebut mencakup beberapa tahapan, mulai dari mencari kembali informasi mengenai budaya yang ada, menjaga keberadaannya, hingga mendokumentasikan hasil penggalian tersebut.
“Digali, dilestarikan dan didokumentasikan,” ucap Mulyono.
Mulyono menilai dokumentasi memiliki peranan penting dalam menjaga informasi mengenai sejarah dan kebudayaan Kutim. Salah satu bentuk dokumentasi yang dinilai dapat memberikan catatan secara lebih lengkap adalah buku.
Penyusunan buku tidak hanya menghasilkan catatan mengenai suatu sejarah atau kebudayaan, tetapi juga melalui proses yang cukup panjang. Di dalamnya terdapat tahapan kajian serta penelusuran ke lapangan untuk menghimpun informasi yang dibutuhkan.
“Dokumentasi menurut saya yang paling bagus di saat ini adalah dengan cara buku. Kenapa? Karena buku itu prosesnya cukup panjang dan itu lengkap,” ujarnya.
Menurut Mulyono, proses penyusunan dokumentasi dalam bentuk buku juga membutuhkan standar tertentu. Hal tersebut diperlukan agar informasi sejarah yang dituangkan tidak hanya menjadi catatan singkat, tetapi mampu menggambarkan suatu peristiwa atau perkembangan kebudayaan secara lebih menyeluruh.
Penggalian informasi menjadi penting karena masih terdapat sejarah maupun kebudayaan Kutai Timur yang belum banyak terungkap. Melalui penelusuran dan kajian, berbagai informasi tersebut dapat dihimpun untuk kemudian disusun menjadi dokumentasi yang dapat diakses dan dipelajari kembali.
Dokumentasi sejarah juga diharapkan tidak hanya bermanfaat untuk kebutuhan internal pemerintah daerah. Catatan yang telah disusun dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat maupun pihak lain yang membutuhkan informasi mengenai perjalanan sejarah dan kebudayaan Kutai Timur.
Dengan adanya dokumentasi yang lebih lengkap, informasi mengenai daerah dapat tersusun secara lebih sistematis. Hal ini juga dapat membantu memberikan gambaran mengenai perkembangan sejarah dan kebudayaan Kutim dari waktu ke waktu.
Mulyono berharap proses tersebut nantinya mampu menghasilkan gambaran sejarah Kutai Timur yang tidak terpisah-pisah, tetapi tersusun secara menyeluruh.
“Harapan saya itu, jadi sejarah itu tergaris secara komprehensif, secara utuh,” katanya.
Menurutnya, penguatan dokumentasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pelestarian. Pengetahuan mengenai sejarah dan budaya tidak cukup hanya disampaikan secara lisan atau dalam bentuk informasi singkat, tetapi perlu memiliki catatan yang dapat menjadi rujukan dan dipelajari kembali.
Melalui penggalian sejarah, pelestarian kebudayaan, serta penyusunan dokumentasi yang lebih lengkap, Disdikbud Kutim berupaya menjaga warisan daerah agar tetap memiliki rekam pengetahuan yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan generasi berikutnya. (SL/ADV)
![]()







