Banner Jejak Satu

Jarak Sekolah dan Akses Perjalanan Jadi Hambatan Pendidikan Anak Sangatta Selatan

Kutai Timur – Melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah atas (SMA) masih menjadi tantangan bagi anak-anak di wilayah Sangkima dan Teluk Singkama, Kecamatan Sangatta Selatan. Kedua wilayah tersebut hingga kini belum memiliki SMA, sehingga lulusan sekolah menengah pertama (SMP) harus melanjutkan pendidikan ke wilayah lain.

Keterbatasan fasilitas pendidikan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jarak sekolah. Akses perjalanan yang cukup jauh serta waktu tempuh hingga sore hari turut menjadi pertimbangan bagi keluarga dalam menentukan keberlanjutan pendidikan anak.

Camat Sangatta Selatan Dewi Dohi mengatakan, Sangkima dan Teluk Singkama saat ini baru memiliki fasilitas pendidikan hingga jenjang SMP.

“Di wilayah Sangkima dan Teluk Singkama itu belum ada SMA, baru ada SMP dan SD,” kata Dewi.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian masyarakat memilih tidak melanjutkan pendidikan anak setelah lulus SMP. Jarak menuju sekolah lanjutan di luar wilayah menjadi kendala, terutama bagi keluarga yang mempertimbangkan biaya dan keamanan perjalanan.

“Karena tidak ada SMA, umumnya masyarakat kami yang di wilayah Sangkima dan Teluk Singkama berhentinya hanya sampai SMP,” ujarnya.

Bagi anak yang tetap melanjutkan sekolah, perjalanan menuju kawasan perkotaan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Mereka harus menempuh jalur yang memiliki sejumlah titik dengan kondisi yang perlu diperhatikan, termasuk akses yang melewati kawasan Pertamina dan permukiman.

Waktu pulang sekolah juga menjadi persoalan tersendiri. Dengan jam belajar yang berakhir pada sore hari, anak-anak diperkirakan baru tiba di rumah ketika hari mulai gelap.

“Anak-anak SMA pulang sekolah biasanya 16.30, sampai di rumah bisa magrib,” tuturnya.

Pilihan lain adalah tinggal di luar desa dengan menyewa tempat kos agar jarak menuju sekolah lebih dekat. Namun, kondisi tersebut membuat anak tidak lagi berada dalam pengawasan langsung orang tua setiap hari.

“Ketika anak-anak disekolahkan di luar desanya, kemungkinan besar orang tua harus mengkoskan anak-anak, risikonya si anak-anak jadi tidak didampingi langsung oleh orang tuanya,” jelasnya.

Dewi menyebut persoalan tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan pendidikan anak. Ia mengungkapkan terdapat anak yang akhirnya berhenti sekolah setelah mengalami kejadian yang disebut sebagai accident. Selain itu, faktor pergaulan bebas juga menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian.

“Dan fatalnya banyak yang berhenti sekolah karena accident, karena pergaulan bebas dan lain sebagainya,” tandasnya.

Karena itu, keberadaan fasilitas pendidikan tingkat SMA serta peningkatan konektivitas jalan dinilai menjadi dua kebutuhan yang saling berkaitan. Akses sekolah yang lebih dekat dan perjalanan yang lebih aman diharapkan dapat membuka kesempatan bagi anak-anak Sangkima dan Teluk Singkama untuk melanjutkan pendidikan tanpa terbebani jarak dan risiko perjalanan. (ADV)

Loading