Kutai Timur – Penanganan stunting di Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, dinilai perlu dilakukan dengan melihat kondisi masing-masing keluarga. Pemberian makanan tambahan (PMT) tidak selalu menjadi solusi utama apabila persoalan yang dihadapi keluarga berkaitan dengan sanitasi, kondisi tempat tinggal, hingga kemampuan ekonomi.
Camat Sangatta Selatan Dewi Dohi mengatakan, ketepatan data menjadi dasar penting sebelum menentukan bentuk intervensi. Menurutnya, apabila data keluarga berisiko tidak menggambarkan kondisi sebenarnya, program yang diberikan berpotensi tidak menyelesaikan persoalan utama.
“Menurut saya kalau datanya tidak valid maka pendekatan yang kita gunakan juga jadi sia-sia,” ujarnya.
Ia melihat pemberian PMT masih menjadi salah satu pendekatan yang banyak dilakukan di tingkat desa. Namun, kebutuhan setiap keluarga tidak selalu sama sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan faktor penyebab yang ditemukan di lapangan.
“Teman-teman di desa sekarang langsung PMT, PMT, PMT, pemberian makanan tambahan,” katanya.
Dewi menjelaskan, keluarga yang masuk dalam kategori berisiko stunting tidak selalu mengalami persoalan akibat kekurangan makanan atau gizi. Kondisi lingkungan tempat tinggal juga dapat menjadi bagian dari indikator yang perlu diperhatikan.
“Bukan hanya permasalahan kekurangan makan atau kekurangan gizi, permasalahannya bisa masuk indikator keluarga risiko ketika toiletnya bermasalah,” jelasnya.
Selain sanitasi, kondisi rumah dan kemampuan ekonomi keluarga juga perlu diperhitungkan. Hunian yang tidak layak dapat memengaruhi kualitas hidup keluarga, sementara pendapatan yang terbatas dapat membuat pemenuhan kebutuhan dasar menjadi lebih sulit.
“Rumahnya tidak layak huni, pendapatannya tidak memadai,” lanjut Dewi.
Karena itu, intervensi menurutnya tidak dapat diseragamkan kepada seluruh keluarga. Jika permasalahan utamanya adalah fasilitas sanitasi, maka bantuan dapat diarahkan pada perbaikan toilet. Begitu pula apabila kondisi rumah menjadi salah satu faktor risiko, intervensi dapat disesuaikan melalui program perbaikan hunian.
“Kalau pendekatan yang kita lakukan hanya pemberian makanan tambahan, saya kira tidak tepat sasaran, kebutuhannya tidak semua sama,” tegasnya.
Pendekatan berdasarkan kondisi keluarga tersebut dinilai penting agar penanganan stunting tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga menyentuh faktor lingkungan dan sosial yang turut memengaruhi tumbuh kembang anak. (ADV)
![]()







