Banner Jejak Satu

Kutim Siapkan 100 Guru Berpendidikan Bahasa Kutai melalui Program RPL

Kutai Timur — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai memperkuat sumber daya tenaga pendidik untuk mendukung pembelajaran muatan lokal Bahasa Kutai. Pada 2026, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim mengirim 100 guru untuk mengikuti pendidikan yang berkaitan dengan Bahasa Kutai.

Langkah tersebut dilakukan karena pembelajaran Bahasa Kutai telah menjadi bagian dari muatan lokal yang diterapkan di sekolah. Penerapannya mencakup seluruh kelas pada jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).

Kebijakan pembelajaran tersebut kemudian diikuti dengan kebutuhan untuk meningkatkan kualifikasi guru yang mengajarkannya. Pasalnya, sebagian guru yang selama ini menjalankan pembelajaran Bahasa Kutai belum memiliki latar belakang pendidikan formal yang secara khusus berkaitan dengan bahasa daerah tersebut.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, mengatakan pembelajaran Bahasa Kutai telah diterapkan secara menyeluruh pada jenjang SD dan SMP. Namun, kondisi tenaga pendidik yang belum memiliki pendidikan formal Bahasa Kutai menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani.

“Muatan lokal Bahasa Kutai ini sudah kita terapkan di semua kelas mulai jenjang SD sampai dengan SMP. Tetapi persoalannya adalah guru-guru kita belum punya pendidikan formal Bahasa Kutai,” ujar Mulyono saat ditemui di ruang kerjanya.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Disdikbud Kutim kemudian menawarkan sejumlah program kepada perguruan tinggi. Upaya tersebut dilakukan untuk mencari skema pendidikan yang dapat mendukung peningkatan kualifikasi guru sekaligus memenuhi kebutuhan pengajar Bahasa Kutai di sekolah.

Dari penjajakan yang dilakukan, Universitas Negeri Malang (UM) menjadi salah satu perguruan tinggi yang dinilai dapat menjawab kebutuhan tersebut. Program pendidikan yang ditawarkan berkaitan dengan bidang bahasa daerah dan diarahkan untuk menghasilkan tenaga pendidik yang memiliki spesifikasi sesuai kebutuhan pembelajaran.

“Di Indonesia mulai fakultas sastra kalau enggak salah itu, dibukalah jurusan untuk guru Bahasa Indonesia dengan spesifikasi bahasa daerah, Bahasa Kutai,” katanya.

Dalam pelaksanaan pendidikan tersebut, sebagian tenaga pengajar atau dosen nantinya akan berasal dari Balai Bahasa Samarinda. Keterlibatan lembaga yang memiliki bidang keahlian bahasa tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap proses pendidikan guru yang mengikuti program.

Pengiriman peserta pendidikan juga telah mulai dilakukan pada 2026. Sebanyak 100 guru Kutim dikirim untuk mengikuti pendidikan bahasa sebagai tahap awal dari program peningkatan kualifikasi tersebut.

“Tahun ini kita kirim 100 orang untuk menempuh pendidikan bahasa. Nanti kan bertahap akan kita teruskan,” jelasnya.

Pengiriman 100 guru tersebut menjadi salah satu langkah Disdikbud Kutim untuk meningkatkan kesiapan tenaga pendidik dalam menjalankan pembelajaran Bahasa Kutai. Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga disiapkan agar dapat dilanjutkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan sekolah.

Skema pendidikan yang digunakan merupakan bagian dari program beasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Sebelumnya, Pemkab Kutim juga telah menggunakan RPL dalam berbagai program peningkatan kualifikasi tenaga pendidik, termasuk untuk bidang pendidikan lainnya.

Melalui RPL, pengalaman dan proses pembelajaran yang telah dimiliki guru dapat menjadi bagian dari upaya melanjutkan pendidikan. Skema tersebut kemudian dimanfaatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas dan kualifikasi tenaga pendidik sesuai kebutuhan bidang pembelajaran di sekolah.

Menurut Mulyono, peningkatan pendidikan guru menjadi bagian penting dalam memastikan kebijakan pembelajaran Bahasa Kutai dapat berjalan dengan dukungan sumber daya manusia yang sesuai. Penerapan muatan lokal tidak cukup hanya melalui penetapan mata pelajaran, tetapi juga membutuhkan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi di bidang yang diajarkan.

“Artinya apa? Untuk meningkatkan SDM guru-guru kita ini ya salah satunya dengan program beasiswa RPL ini,” tuturnya.

Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan pembelajaran bahasa daerah di lingkungan sekolah. Dengan Bahasa Kutai telah diterapkan pada seluruh kelas mulai SD hingga SMP, kebutuhan terhadap guru yang memiliki pengetahuan dan kualifikasi sesuai bidang tersebut menjadi semakin penting.

Pengiriman 100 guru pada 2026 menjadi tahap awal yang nantinya akan dilanjutkan secara bertahap. Jumlah peserta dan pelaksanaan program berikutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di sekolah-sekolah Kutim.

Disdikbud Kutim berharap peningkatan kualifikasi tersebut dapat memperkuat pelaksanaan muatan lokal Bahasa Kutai. Guru yang memperoleh pendidikan terkait bahasa daerah diharapkan dapat memiliki bekal yang lebih sesuai untuk mendukung proses pembelajaran peserta didik di sekolah.

Selain itu, pengembangan tenaga pendidik juga menjadi bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan. Program beasiswa RPL dimanfaatkan sebagai salah satu jalur untuk memberikan kesempatan kepada guru agar dapat memperoleh pendidikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Dengan pengiriman 100 guru pada tahun ini, Pemkab Kutim mulai membangun sumber daya pendidik yang lebih spesifik untuk mendukung pembelajaran Bahasa Kutai. Program tersebut akan diteruskan secara bertahap agar kebutuhan guru Bahasa Kutai di jenjang SD dan SMP dapat dipenuhi sekaligus memperkuat keberlanjutan muatan lokal tersebut di sekolah. (SL/ADV)

Loading