
Kutai Timur – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menekankan peningkatan kualitas kinerja para Tenaga Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB) di seluruh wilayah kerja, khususnya di Kecamatan Sangatta Utara yang mencatat keluarga berisiko stunting (KRS) tertinggi di Kutim dengan total 3.686 keluarga berdasarkan hasil pemutakhiran data terbaru.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi menyampaikan bahwa PLKB merupakan ujung tombak pendataan dan pendampingan program pencegahan stunting. Karena itu, mereka harus hadir di tengah masyarakat dan dikenal baik oleh warga binaannya.
“Petugas kita harus benar-benar berada di lapangan. Jangan sampai masyarakat lebih mengenal saya sebagai kepala dinas dibandingkan PLKB. Itu berarti ada yang harus dibenahi,” ujar Junaidi kepada awak media.
PLKB di Kutim kini tidak lagi hanya melakukan penyuluhan keluarga berencana, tetapi juga bertugas memantau aspek sanitasi rumah tangga, penggunaan air bersih, pola asuh anak, hingga kondisi pasangan usia subur (PUS) yang masuk kategori 4T. Seluruh informasi dianalisis melalui sistem data berbasis nama dan alamat (BNBA) sebagai indikator intervensi.
“Kenapa keluarga dikatakan berisiko? Bisa karena sanitasi buruk, tidak punya jamban sehat, atau jarak kelahiran terlalu dekat. Semua itu dihimpun PLKB dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) di lapangan,” jelasnya.
Junaidi menekankan pentingnya PLKB memahami secara menyeluruh kondisi keluarga yang mereka dampingi, bukan sekadar mengisi formulir data. Ketika PLKB mengenal warganya, rekomendasi intervensi akan lebih tepat sasaran.
Ia menambahkan bahwa pemerintah kabupaten terus memperkuat dukungan bagi PLKB dan TPK, baik melalui pembekalan kompetensi maupun pendampingan lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Kolaborasi ini kunci karena penyebab risiko stunting menyangkut banyak sektor.
“Kalau masalahnya rumah tidak layak huni, Perkim bisa intervensi. Kalau butuh sambungan air bersih, PDAM atau PU ikut masuk. Kalau butuh peningkatan pendapatan, Disnakertrans siap,” ungkapnya.
DPPKB berharap petugas lapangan terus memperbarui pengetahuan dan membangun komunikasi aktif dengan warga. Langkah-langkah seperti pemutakhiran data berkala, konseling keluarga, hingga edukasi perilaku hidup bersih dan sehat harus terus dilakukan.
Setiap perubahan kecil dalam rumah tangga dapat memberi dampak besar bagi tumbuh kembang anak dan ibu hamil di masa mendatang.
“Kalau PLKB kuat di lapangan, maka pencegahan stunting semakin cepat tercapai,” pungkasnya. (TS/ADV).
![]()






