Kolaborasi ITS dan Kutim, Langkah Nyata Industrialisasi Pisang

 Kutai Timur –Rencana industrialisasi pisang kepok gerecek di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini semakin menunjukkan arah yang jelas dan terukur. Pemerintah daerah tidak lagi membatasi pengungkapan wacana, melainkan mulai melangkah lebih konkret melalui kerja sama strategi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kolaborasi ini difokuskan pada perancangan mesin pengolah pisang yang nantinya akan mendukung proses produksi tepung pisang dalam skala besar dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari forum investasi dan pameran pertanian yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Dalam forum tersebut, potensi besar pisang kepok gerecek sebagai komoditas unggulan Kutim mulai dilirik untuk dikembangkan ke sektor industri pengolahan.

“ITS akan membantu kami dalam merancang mesin pengolahan tepung pisang. Ini penting agar produksi bisa berkelanjutan,” ujar Dyah kepada awak media.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan mesin dan teknologi yang dirancang secara khusus akan memberikan dampak langsung bagi para petani. Dengan dukungan teknologi tersebut, kualitas produk dapat dijaga secara konsisten, sementara kapasitas produksi dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan pasar.

“Kalau kami punya teknologi sendiri, kami bisa menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan,” jelasnya.

Lebih jauh lagi, kerja sama ini juga mencerminkan sinergi positif antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan berbasis potensi lokal. Hasil penelitian dan inovasi dari ITS diharapkan tidak hanya berhenti di jenjang akademis, namun dapat diterapkan langsung di lapangan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap hasil penelitian ITS bisa diterapkan langsung di Kutim, supaya industri tepung pisang bisa jalan tanpa tergantung luar,” ujarnya.

Melalui langkah ini, Kutai Timur diharapkan mampu bertransformasi dari sekedar daerah penghasil bahan baku menjadi wilayah yang kuat di sektor industri pengolahan. Pisang kepok gerecek yang selama ini dikenal sebagai komoditas lokal kini diproyeksikan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi melalui proses pengolahan menjadi tepung. Inovasi ini sekaligus membuka peluang baru di sektor ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta memberi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan potensi serupa berdasarkan kekuatan lokalnya masing-masing.(TS)

Loading