Bangun Kesadaran Sejak Dini, DPPKB Kutim Libatkan Sekolah dan Remaja dalam Pencegahan Stunting

Kutai Timur – Upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak hanya menyasar keluarga dan ibu hamil, tetapi juga kalangan remaja dan pelajar. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim menilai bahwa edukasi sejak usia sekolah merupakan langkah strategis dalam membentuk generasi sadar gizi, sehat, dan bertanggung jawab terhadap masa depan.

Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi menjelaskan bahwa pihaknya kini memperkuat dua program utama berbasis pendidikan, yaitu Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Keduanya bertujuan menanamkan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, dan gaya hidup sehat sejak dini.

“Kalau remaja sudah paham bagaimana merawat diri, mengatur waktu belajar, dan menyiapkan masa depan, otomatis mereka akan terhindar dari pernikahan dini dan risiko stunting,” ujar Junaidi kepada awak media.

Melalui SSK, sekolah-sekolah di Kutim difasilitasi untuk mengintegrasikan isu kependudukan ke dalam kegiatan belajar. Para guru mendapat pelatihan khusus agar bisa menyampaikan materi tentang kependudukan dan pembangunan berkelanjutan secara kontekstual dan menarik.

“Bukan sekadar teori, tapi pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya soal pola makan sehat, pentingnya kebersihan diri, dan tanggung jawab dalam berinteraksi sosial,” terangnya.

Sementara itu, program PIK-R menjadi wadah bagi remaja untuk berdiskusi terbuka tentang isu-isu sensitif yang seringkali tabu dibicarakan, seperti kesehatan reproduksi, hubungan sosial, dan tekanan sosial di lingkungan mereka.

“Melalui PIK-R, kami ingin membangun remaja yang berani bertanya, berani memahami dirinya sendiri, dan berani menolak hal-hal yang bisa merusak masa depannya,” jelasnya.

Program ini dijalankan secara kolaboratif antara DPPKB, Dinas Pendidikan (Disdik) Kutim, serta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Selain di sekolah menengah, kegiatan edukasi juga menyasar remaja di komunitas pesantren dan kelompok karang taruna.

“Kami tidak membatasi ruang edukasi. Di mana ada remaja, di situ kami hadir,” ujarnya.

Selain edukasi tatap muka, DPPKB juga mendorong inovasi digital di kalangan pelajar. Melalui konten edukatif di media sosial, siswa diajak untuk membuat video pendek tentang pentingnya menjaga kesehatan dan menunda pernikahan dini.

“Anak muda sekarang lebih cepat paham lewat visual dan media digital. Jadi kami dorong mereka untuk kreatif sekaligus edukatif,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa melibatkan remaja dalam gerakan pencegahan stunting bukan hanya bagian dari sosialisasi, tetapi investasi jangka panjang bagi Kutim.

“Anak muda hari ini adalah calon orang tua esok. Kalau sejak sekolah mereka sudah paham arti gizi dan tanggung jawab keluarga, maka Kutim akan punya generasi emas yang kuat dan sehat,” pungkasnya. (TS/ADV)

Loading