
Kutai Timur – Di tengah upaya pemerintah menurunkan angka Anak Tidak Sekolah (ATS), Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus menyiapkan jalur pendidikan alternatif bagi mereka yang telah terlanjur keluar dari sistem sekolah formal.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim memastikan bahwa pendidikan tetap dapat diwujudkan melalui program kesetaraan Paket A, B, dan C.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa penanganan ATS bukan hanya memvalidasi data atau mengembalikan siswa ke bangku sekolah, tetapi memberi mereka kesempatan kedua.
“Bagaimana anak-anak yang sudah terlanjur putus sekolah ini tetap mendapatkan pendidikan.misalnya paket,” ucap Mulyono kepada awak media.
Program paket menjadi harapan besar bagi remaja yang terhambat secara ekonomi atau terputusnya sekolah karena alasan keluarga dan pekerjaan. Dengan kesetaraan ijazah, mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan atau melamar pekerjaan secara formal.
Menurutnya, Kutim menjadi daerah pertama di Kaltim yang melakukan verifikasi dan validasi ATS secara massal.
“Dari 10 kabupaten/kota, baru Kutim yang bergerak,” tegasnya.
Pada Maret 2025, jumlah ATS Kutim tercatat di kisaran 13.000, dan turun menjadi sekitar 9.000 pada bulan September setelah verifikasi lapangan.
Ia menegaskan bahwa jalur paket akan terus diperkuat untuk mengejar sisa data.
“Nanti data yang tidak ditemukan akan kami konsultasikan dengan Disdukcapil dan Pusdatin untuk dibersihkan,” jelasnya.
Dirinya berharap program kesetaraan tidak lagi dipandang sebelah mata.
“Yang terpenting adalah anak-anak harus tetap mendapatkan akses pendidikan. Itu menjadi prinsip dasar yang selalu kami pegang,” ujarnya.
Pendidikan bukan hanya memastikan masuk sekolah, tetapi tentang setiap anak, apa pun kondisinya, tetap memiliki harapan. (TS/ADV)
![]()






