Ketika Infrastruktur Menjadi Penentu Harga Pisang di Kutai Timur

Kutai Timur – Harga pisang di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) ternyata tidak hanya ditentukan oleh kualitas buah atau hasil panennya, tetapi sangat dipengaruhi oleh kondisi infrastruktur, khususnya akses jalan menuju pusat distribusi dan pasar. Di beberapa wilayah sentra kebun, seperti Kecamatan Kaliorang, terutama Desa Selangkau, kondisi jalan yang rusak masih menjadi persoalan serius yang berdampak langsung pada nilai jual hasil panen masyarakat.

Pisang yang seharusnya bisa dijual dengan harga layak sering kali mengalami penurunan nilai hanya karena keterlambatan distribusi. Proses pengangkutan menjadi lebih lama dan berisiko, sehingga kualitas buah menurun sebelum sampai ke tangan pembeli. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kemampuan petani dalam menghasilkan panen. “Kendalanya bukan di produktivitas. Produksinya bagus, tapi karena jalan rusak, pisang jadi telat sampai pasar, harganya jadi jatuh,” ungkap Dyah kepada awak media.

Ia menjelaskan, permasalahan infrastruktur ini telah disampaikan secara resmi kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kutim untuk ditindaklanjuti dan dikoordinasikan lebih lanjut antarinstansi. Menurutnya, akses jalan yang layak menjadi kunci penting agar rantai distribusi berjalan lancar dan ekonomi masyarakat bergerak lebih cepat. “Kalau kami tidak bisa jalan sendiri. Akses sudah baik, rantai ekonomi akan lancar,” katanya.

Meskipun menghadapi berbagai kendala di lapangan, para petani pisang di wilayah tersebut tetap menunjukkan semangat dan keteguhan untuk bertahan. Mereka terus mengolah kebun, merawat tanaman, serta menjaga kualitas panen sambil berharap adanya perbaikan nyata dari sisi infrastruktur. Dyah juga menekankan karakteristik pisang sebagai komoditas yang cepat matang dan berisiko busuk jika distribusinya terhambat. “Pisang itu cepat busuk, jadi butuh waktu distribusi yang singkat. Begitu infrastruktur diperbaiki, harga otomatis naik,” tutupnya.

Kondisi ini menjadi cerminan bahwa ketahanan pangan dan kesejahteraan petani tidak bisa hanya bertumpu pada kualitas benih, pupuk, atau teknik budidaya semata. Infrastruktur jalan memegang peranan vital sebagai penghubung antara hasil kerja petani dan pasar. Selama akses belum memadai, maka potensi ekonomi dari komoditas unggulan daerah pun tidak akan bisa dimaksimalkan sepenuhnya. Kisah di Kaliorang ini pun mengingatkan bahwa jalan bukan sekadar jalur tanah dan aspal, melainkan jembatan menuju kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat pedesaan.(TS)

Loading