DPPKB Kutim Gunakan Pendekatan Sosial dan Budaya dalam Edukasi Keluarga Berencana

Kutai Timur – Di tengah luasnya wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dan beragamnya karakter masyarakat di tiap desa, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim memilih jalur komunikasi yang lebih halus namun, yaitu pendekatan sosial dan budaya.

Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi menilai bahwa keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) dan pencegahan stunting tidak bisa hanya bergantung pada data atau intervensi teknis. Diperlukan sentuhan komunikasi yang bisa menyentuh hati masyarakat agar mereka benar-benar memahami makna penting dari perencanaan keluarga.

“Kalau kita datang hanya membawa data, orang tidak akan tersentuh. Tapi kalau datang membawa empati dan bahasa budaya, mereka akan terbuka,” ujar Junaidi kepada awak media.

Junaidi menjelaskan, pendekatan ini dilakukan melalui kegiatan penyuluhan di tingkat desa dan dusun, di mana Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi berdialog menggunakan bahasa dan nilai lokal yang akrab di telinga warga.

“Misalnya di wilayah pesisir, kami gunakan istilah ‘menambat perahu dengan tali yang kuat’ untuk menggambarkan pentingnya merencanakan jumlah anak. Bahasa simbolis seperti itu lebih mudah diterima,” jelasnya.

DPPKB juga menggandeng tokoh agama, tokoh adat, dan kelompok perempuan dalam setiap kegiatan sosialisasi. Menurutnya, pesan yang datang dari orang yang dihormati masyarakat jauh lebih efektif daripada sekadar spanduk atau baliho.

“Kalau pesan datang dari tokoh yang mereka percaya, itu akan dipegang kuat. Karena masyarakat kita masih menjunjung tinggi nilai kultural,” terangnya.

Selain melalui pertemuan langsung, DPPKB Kutim kini juga aktif menggunakan media digital seperti podcast “Bangga Kencana” dan video pendek di media sosial untuk memperluas jangkauan sosialisasi.

“Kami sadar generasi muda sekarang lebih banyak di dunia digital. Jadi pendekatan kami harus menyesuaikan zaman,” ucapnya.

Dalam program tersebut, DPPKB menghadirkan narasumber dari berbagai bidang, mulai dari dokter spesialis tumbuh kembang anak, psikolog, hingga penyuluh KB muda yang berbagi pengalaman di lapangan.

“Melalui podcast dan medsos (media sosial), pesan kami tidak lagi bersifat satu arah. Masyarakat bisa bertanya, berdiskusi, bahkan berbagi pengalaman,” sambungnya.

Pendekatan budaya juga dianggap efektif dalam menangani isu sensitif seperti pernikahan dini yang masih terjadi di beberapa desa pedalaman dan kawasan konservasi.

“Kalau kita langsung melarang, masyarakat akan menolak. Tapi kalau kita dekati dengan nilai-nilai lokal, kita bisa masuk dengan lebih bijak. Misalnya lewat cerita adat, melalui perumpamaan tentang kesiapan dan tanggung jawab,” tuturnya.

Dengan cara ini, DPPKB Kutim berharap pesan-pesan tentang kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, dan pencegahan stunting bisa diterima secara lebih luas dan berkelanjutan.

“Perubahan besar selalu dimulai dari cara bicara yang kecil. Selama kita bisa menghargai budaya masyarakat, mereka akan membuka diri untuk berubah,” pungkasnya. (TS/ADV)

Loading