
Kutai Timur – Di era digital seperti sekarang, pencegahan stunting tidak hanya dilakukan di ruang rapat dan seminar, tetapi juga di layar ponsel pintar masyarakat.
Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini memanfaatkan media sosial dan konten digital sebagai sarana edukasi publik yang efektif untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan keluarga dan pencegahan stunting sejak dini.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi mengatakan bahwa strategi komunikasi publik menjadi kunci penting dalam mempercepat perubahan perilaku masyarakat.
Melalui pendekatan kreatif dan bahasa yang mudah dipahami, pihaknya berupaya menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk remaja dan calon pasangan usia subur.
“Sosialisasi tidak bisa lagi hanya di aula atau kantor desa. Hari ini orang lebih banyak pegang handphone daripada buku. Jadi kami ubah pendekatannya, masuk lewat media sosial,” ujar Junaidi kepada awak media.
DPPKB Kutim kini rutin memproduksi konten edukatif berbentuk video pendek, podcast, dan infografis interaktif yang disebarkan melalui kanal resmi seperti YouTube, Instagram, TikTok, dan Facebook.
Salah satu program yang mendapat sambutan luas adalah Podcast Bangga Kencana Kutim, yang menampilkan diskusi santai bersama dokter, konselor, dan tokoh masyarakat tentang isu keluarga, kesehatan reproduksi, serta pola asuh anak.
“Lewat podcast, kami bisa bicara langsung dengan bahasa yang ringan tapi tetap berisi. Kadang ada narasumber yang membahas topik sensitif seperti pernikahan dini, KB, atau HIV, tapi justru itulah yang paling banyak ditonton,” ungkapnya.
Selain media sosial (medsos), DPPKB juga menggandeng media lokal dan jurnalis untuk memperluas jangkauan kampanye publik.
Para wartawan diundang dalam kegiatan sosialisasi agar pesan-pesan pencegahan stunting tersampaikan secara akurat dan menarik di berbagai platform pemberitaan.
“Kami ingin media menjadi mitra edukasi, bukan hanya peliput. Karena lewat tulisan mereka, pesan kami bisa hidup dan sampai ke masyarakat dengan cara yang inspiratif,” tuturnya.
Sementara itu, DPPKB juga membangun kolaborasi dengan sekolah dan komunitas pemuda melalui Program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).
Melalui kegiatan ini, para siswa diajak memahami pentingnya perencanaan keluarga, gizi seimbang, serta peran mereka dalam membentuk generasi bebas stunting.
“Anak-anak SMA dan mahasiswa sekarang itu calon orang tua masa depan. Kalau mereka paham dari sekarang, kita tidak perlu khawatir lagi tentang generasi yang akan datang,” tambahnya.
Upaya memperkuat literasi keluarga ini juga didukung oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui kampanye nasional “Bangga Kencana” (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana).
Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting di Kutim yang saat ini berada di kisaran 26,9 persen.
“Kalau edukasi berjalan terus, lambat laun pola pikir masyarakat akan berubah. Pencegahan stunting itu bukan hanya urusan gizi, tapi juga soal kesadaran,” tegasnya.
Dengan gaya komunikasi yang adaptif dan inovatif, DPPKB Kutim membuktikan bahwa kebijakan publik bisa dikemas dengan cara yang lebih segar, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh masyarakat.
“Anak muda hari ini tidak bisa diceramahi. Mereka harus diajak bicara. Itulah pendekatan kami, bicara dengan empati, edukasi dengan hati,” pungkasnya. (TS/ADV)
![]()






