
Kutai Timur – Di tengah kondisi geografis Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang luas dan banyak wilayah terpencil nan jauh, peran Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dan kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) menjadi sangat vital dalam menyukseskan program keluarga berencana dan pencegahan stunting.
Mereka menjadi perpanjangan tangan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) dalam menjangkau masyarakat di pelosok yang sulit diakses oleh layanan formal pemerintah.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 43 tenaga PLKB yang tersebar di 18 kecamatan.
Namun jumlah tersebut masih jauh dari ideal untuk melayani 139 desa dan dua kelurahan di Kutim.
Kondisi inilah yang membuat keberadaan kader IMP menjadi sangat membantu dalam menjalankan fungsi penyuluhan di lapangan.
“PLKB kami tidak mungkin bekerja sendiri. Karena itu, kader IMP hadir sebagai perpanjangan tangan di setiap desa dan RT. Mereka menjadi penghubung penting antara pemerintah dan masyarakat,” ujar Junaidi kepada awak media.
Kader IMP berperan dalam memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat tentang pentingnya perencanaan keluarga, kesehatan ibu dan anak, serta pencegahan stunting.
Mereka juga aktif dalam kegiatan posyandu, bimbingan keluarga, dan sosialisasi alat kontrasepsi bersama petugas kesehatan.
Salah satu penyuluh senior, Sri Wahyuni, yang telah bertugas di wilayah Busang selama 12 tahun, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah akses menuju lokasi binaan.
Banyak daerah yang hanya bisa ditempuh menggunakan perahu atau jalan berlumpur yang sulit dilalui saat musim hujan.
“Kadang kami harus naik motor berjam-jam, bahkan menginap di rumah warga karena jarak tempuhnya sangat jauh. Tapi semua itu terbayar saat masyarakat mulai paham pentingnya menjaga jarak kelahiran dan mencegah stunting,” ungkap Sri.
Ia menuturkan, pendekatan yang dilakukan para kader IMP bersifat personal dan kultural.
Mereka tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga menjadi pendamping dan sahabat bagi keluarga binaan di desa. Pendekatan humanis inilah yang membuat pesan pemerintah lebih mudah diterima masyarakat.
Sementara itu, Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim, Ani Saidah, menilai peran PLKB dan IMP sangat krusial dalam menjalankan visi besar program Cap Jempol Stop Stunting.
Menurutnya, keberhasilan program pencegahan stunting di tingkat kabupaten sangat bergantung pada kualitas komunikasi yang dilakukan di akar rumput.
“Kalau PLKB dan kader IMP-nya aktif, maka perubahan perilaku masyarakat akan cepat terjadi. Karena mereka langsung bersentuhan dengan warga setiap hari,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa DPPKB Kutim secara rutin memberikan pelatihan peningkatan kapasitas bagi kader IMP dan PLKB agar mampu beradaptasi dengan perkembangan informasi dan teknologi.
Langkah ini sekaligus memperkuat sistem pendataan keluarga berbasis aplikasi digital agar pelaporan di lapangan lebih cepat dan akurat.
“Sekarang kami latih mereka menggunakan aplikasi data keluarga agar hasil kerja bisa langsung diinput dan dilaporkan secara real time. Jadi, ke depan tidak ada lagi keterlambatan data,” jelas Ani.
Dengan semangat yang tidak pernah padam, para PLKB dan kader IMP di Kutim terus menjadi ujung tombak dalam mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera, dan mandiri.
Mereka bukan hanya penyuluh, tetapi juga pejuang yang menjaga masa depan generasi Kutim dari ancaman stunting.
“Kalau PLKB berhenti bergerak, maka berhenti pula denyut program keluarga berencana di desa. Mereka inilah pahlawan pembangunan manusia di garis depan,” pungkas Junaidi. (TS/ADV)
![]()






