
Kutai Timur – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memiliki potensi besar dalam budidaya kakao, namun hingga kini hasil panennya justru dibawa ke Kabupaten Berau untuk diolah menjadi produk coklat.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim, Darsafani, menilai kondisi ini tidak boleh terus dibiarkan.
“Kakao atau coklat itu diambil produk kami secara mentah ke Berau, bahan bakunya dari Kutim semuanya,” ungkap Darsafani kepada awak media.
Selama ini, petani di Kutim menjual kakao dalam bentuk mentah tanpa mendapatkan nilai tambah dari proses pengolahan.
Darsafani menyampaikan bahwa pemerintah daerah ingin mengambil alih peluang ini dengan mendorong pendirian pabrik coklat lokal.
Ia mengatakan bahwa Arah Bupati Kutim sejalan dengan langkah tersebut, yaitu daerah harus mampu mengolah sendiri potensi yang dimilikinya.
Dirinya menambahkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada kakao, tetapi juga karet dan komoditas perkebunan lainnya yang memiliki peluang di pasar hilir.
Dengan dukungan dokumen Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang sedang disosialisasikan, pemerintah ingin memastikan bahwa hilirisasi berjalan terarah, memiliki kepastian regulasi, dan menarik bagi investor.
Pendirian pabrik coklat di Kutim diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani, dan membuat rantai pasok industri lebih efisien.
Selama ini, nilai tambah dinikmati oleh daerah lain karena Kutim hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah.
Dengan mengolah sendiri hasil perkebunan, daerah dapat memperkuat perekonomian lokal secara signifikan.
“Ini yang diinginkan Pak Bupati ke depan,” tegasnya.
Menurutnya, potensi besar ini tidak boleh lagi terlewatkan. Hilirisasi adalah jalan yang harus dilalui agar Kutim dapat berdiri sebagai daerah penghasil produk perkebunan yang tidak hanya kaya sumber daya, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi komoditas bernilai tinggi. (TS)
![]()






